Koleksi Bahan Kuliah Online

Bahan Kuliah, Gratis, Metodologi Penelitian, Manajemen Sumber Daya Manusia, Sistem Informasi, Manajemen Strategik, Hasil Penelitian, Ekonomi Pariwisata, Manajemen Pariwisata, Perhotelan
bahan kuliah, gratis bahan kuliah, Agrotourism, Bali, Indonesia, Pariwisata, Manajemen, Sekolah Pariwisata Bali, Sekolah Perhotelan Bali, Urban poor, Metodologi penelitian, Bahan Kuliah, Global Warming Solution, agricultural tourism, tourism bali, tourism product life cycle, swot tourism bali, strategy development, global warming, climate change, rai utama, global warming conference, unfccc, bali, indonesia, agrotourism, agro wisata, wisata agro, thesis, bali tourism watch

« Ubah ”Image” Makanan Pokok Orang Indonesia
Kegagalan di Balik Kesuksesan Pariwisata Bali »

Padukan Pariwisata dan Pertanian

Padukan Pariwisata-Pertanian dengan Teknologi Canggih
Oleh
I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., MMA.

Rabu Pon, 13 September 2006

SEKTOR pariwisata hanya menyumbangkan 5% dari seluruh pendapatannya untuk Bali. Artinya ekonomi Bali sejak puluhan tahun yang lalu juga tetap lesu darah. Ternyata tidak jauh beda dengan nasib Papua dengan sektor pertambangan emasnya. Ternyata juga multiplier effect sektor pariwisata Bali terhadap sektor lainnya masih rendah bila dibandingkan dengan pariwisata di Hawaii, Italia, Prancis, dan lainnya.

Bali sebelum pariwisata bertumbuh dengan pesat masih mengandalkan sektor primer atau basis pertanian sebagai mata pencarian mayoritas penduduk. Zaman telah berubah, pariwisata dalam hitungan belasan tahun melejit sebagai kontributor PDRB Bali terbesar, sementara sektor pertanian perlahan-lahan terus menurun bahkan semakin tidak diminati oleh generasi muda. Di sinilah letak persoalan semua itu. Tidak disadari bahwa sektor pertanian memang tidak bisa digantikan oleh sektor mana pun. Di dunia ini harus ada yang menggeluti sektor ini karena manusia hidup pasti makan. Setidak-tidaknya suplai hasil produksi dari sektor pertanian pastilah akan diperlukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perkembangan di negara-negara maju saat ini lagi nge-trend sistem ecommerce-nya. Beberapa abad sebelumnya dikenal juga istilah barter, dan commerce, semua itu harus tetap ada produk yang perdagangkan. Sementara di Bali, belum kuat betul dengan basis sektor primer sudah berani meninggalkannya dan menggantikannya dengan sektor pariwisata yang sangat rentan terhadap isu-isu global. Seharusnya sektor primer tetap diprioritaskan, sementara pariwisata juga dikembangkan dengan sistem modern.

Sebenarnya sektor pariwisata dapat berkolaborasi dengan sektor pertanian, sehingga manakala salah satu dari sektor ini terpuruk masih ada sektor lain yang dapat dibanggakan, begitu juga sebaliknya. Sektor pariwisata yang memiliki kemampuan mendulang devisa lebih banyak seharusnya mau mensubsidi lebih banyak lagi pada sektor pertanian sebagai sebuah tanggung jawab sosial dan moral sehingga keduanya dapat berkembang bersama-sama.

Di sisi lain, di negara-negara maju, sangat jelas di mana daerah perkotaan, perkebunan, pertanian, dan industrinya. Sementara di Bali bahkan di Indonesia sendiri sangat tidak jelas. Artinya tata ruang peruntukan wilayahnya sangat tidak jelas, kalaupun ada perencanaannya hanya di atas kertas. Pada akhirnya lahan-lahan pertanian yang seharusnya produktif beralih fungsi bahkan lebih parah lagi menjadi lahan tidur.

Semua persoalan tersebut telah terjadi. Lalu solusinya adalah pemerintah turun tangan menggairahkan sektor pertanian dalam arti luas beserta sektor ikutannya seperti industri kecil dan rumah tangga. Zaman telah berubah, teknologi semakin canggih, harus dimanfaatkan sebagai sarana pengembangannya. Idealismenya adalah dengan memberikan sentuhan teknologi pada sektor primer ini sehingga generasi muda tidak malu tetapi bangga dengan profesi pada sektor primer ini. Mungkin saja di suatu saat nanti penduduk Bali mampu mengekspor hasil pertaniannya, tidak tergantung lagi dengan musim, artinya terus ada produksi. Di negara-negara maju telah mampu mengekspor jasa sebagai sumber devisa terbesarnya. Untuk mengekspor jasa sangat diperlukan kompetensi global. Artinya para pengambil kebijakan jangan lagi membuat standar lokalan. Dalam konteks Ajeg Bali, Bali harus mampu beradaptasi dan berubah seiring perkembangan dan dinamika globalisasi jika mau Bali ini ajeg.

Penulis, dosen tetap Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Pusat Pendidikan & Latihan Pariwisata Dhyana Pura, Badung, alumnus Pascasarjana Magister Manajemen Agribisnis Unud, Mahasiswa Master of Art in International Leisure and Tourism Studies CHN University, Leuuwarden, Netherlands

This entry was posted on Tuesday, March 18th, 2008 at 6:48 am and is filed under Publikasi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.


  • Lowongan Kerja
  • Krtik Sosial
  • Thesis Agrotourism Bali
  • Renungan Kristen
  • Bahan Kuliah Sistem Informasi Manajemen
  • Bahan Kuliah Metodologi Penelitian
  • Lowongan Kerja
  • Tourism Bali
  • Beasiswa
  • Tourism Bali
  • Lagu Pujian Kristen dan Renungan


  • Your Ad Here

    Sistem informasi manajemen & Metodologi penelitian, Education| Hotel Management| Hotel management Institute| Tourism Education| Jobs| Distance Education Schools| Courses| Distance Education Courses| Hotel management School|